Teruntuk
kamu, yang namanya tertahan untuk kusebutkan di sini.
Apa
kabar? Lebih baik kah tanpa aku? Semoga iya :)
Untuk
kamu tahu saja, saat kutulis surat ini sebagian pikiranku melayang mendoakan
kenangan lama supaya tetap menjadi kenangan, tanpa ‘bumbu’ dan harapan bisa
terulang lagi.
Aku
masih ingat, kenapa dulu gadis remaja itu berkata “ya” saat teman laki-lakinya
bertanya dan meminta. Masih segar untuk diingat, saat mereka sama-sama duduk di
teras dan tertunduk menyembunyikan rasa malu-malu itu. Masih terlalu lucu untuk
ditertawakan, saat tiap malam si gadis menunggui pesan masuk di handphone-nya.
Klise....
Ya, kisah mereka berdua terlalu klise.
Surat
ini aku tulis bukan untuk mengingatkanmu tentang bagaimana kisah si gadis dan teman
laki-lakinya saat masih bersama. Surat ini aku tulis untuk memberitahumu apa
yang dulu si gadis gak sempat katakan pada pacarnya di hari mereka sama-sama
memutuskan untuk menjadi mantan satu sama lain.
Sakit.
Itu harga yang harus dibayar si gadis untuk memenangkan egonya. Kamu tahu?
Lamanya dia sakit dan menangis justru melebihi lamanya dia bahagia dan tertawa.
Bukan perkara mudah untuk si gadis melupakan cinta pertamanya, yang dibilang
indah pun enggak. Tapi aku pikir gadis itu terlalu berani untuk berharap bahwa
laki-laki, dengan ego yang sama-sama keras, yang sudah ia ‘buang’ akan kembali
meminta lagi.
Gadis
itu salah. Dia pikir dengan diam dan menangis, teman laki-lakinya akan paham
apa yang dia mau. Dia pikir dengan memberi sedikit jarak semua akan kembali
pada bagaimana semestinya. Dia pikir dengan mengulur sedikit waktu, kelak teman
laki-lakinya akan menoleh lagi dan si gadis akan berani mengatakan apa yang
sebenarnya dia mau.
Enam
tahun berlalu, dan tenyata teman laki-lakinya gak pernah menoleh ke belakang.
Begitu pun si gadis, gak pernah berani mengatakan apa yang dia mau. Ya, sampai
sekarang aku cuma berani menulis lewat surat ini apa yang dulu gak pernah aku bilang
ke kamu.
Kamu
tahu? Dulu aku masih terlalu naif untuk menyaring semua komentar orang lain
soal aku dan kamu, yang selanjutnya disebut kita. Aku cuma mau kamu meyakinkan
aku, meyakinkan soal semua yang aku gak yakin. Si gadis cuma mau diyakinkan
oleh teman laki-lakinya. Sayang, kamu gak pernah paham.
Ajaib.
Itulah bagaimana waktu mengubah kita yang dulu mesra, menjadi dingin tanpa
saling bertegur sapa.
Ajaib.
Itulah bagaimana ternyata waktu bisa jadi penyembuh.
Ajaib.
Itulah waktu yang sama-sama mendewasakan kita. Mengubah aku dan kamu yang dulu
dibatasi perselisihan menjadi akrab lagi. Hey lihatlah, bagaimana sekarang kita
begitu dekat dalam apa yang manusia sebut pertemanan.
Ajaib.
Itulah bagaimana ternyata waktu juga bisa mempertemukan aku dengan yang lain,
begitu pun kamu.
Hey,
mantan pacar pertamaku. Masih suka ngutak-ngatik soal fisika? Salut deh sama gimana
besarnya cinta kamu ke rumus-rumus itu. Kamu tahu? Hukum kekekalan energi gak
bisa dipakai dalam urusan cinta remaja.
“Energi
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu
bentuk ke bentuk yang lain.”
Kamu
gak bisa mengubah kalimat itu jadi “Cinta gak bisa diciptakan atau
dimusnahkan...” Kenyataannya cinta bisa kok diciptain sesuai kemauan kita,
cinta juga gampang dimusnahin.
Tapi
ya benar “Cinta bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain....” Cinta
kita untuk siapa juga bisa diubah, dari satu orang ke orang lain....
Tulisan ini
diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.
