Surat Untuk Mantan

Senin, 31 Maret 2014


Teruntuk kamu, yang namanya tertahan untuk kusebutkan di sini.
Apa kabar? Lebih baik kah tanpa aku? Semoga iya :)
Untuk kamu tahu saja, saat kutulis surat ini sebagian pikiranku melayang mendoakan kenangan lama supaya tetap menjadi kenangan, tanpa ‘bumbu’ dan harapan bisa terulang lagi.

Aku masih ingat, kenapa dulu gadis remaja itu berkata “ya” saat teman laki-lakinya bertanya dan meminta. Masih segar untuk diingat, saat mereka sama-sama duduk di teras dan tertunduk menyembunyikan rasa malu-malu itu. Masih terlalu lucu untuk ditertawakan, saat tiap malam si gadis menunggui pesan masuk di handphone-nya.

Klise.... Ya, kisah mereka berdua terlalu klise.

Surat ini aku tulis bukan untuk mengingatkanmu tentang bagaimana kisah si gadis dan teman laki-lakinya saat masih bersama. Surat ini aku tulis untuk memberitahumu apa yang dulu si gadis gak sempat katakan pada pacarnya di hari mereka sama-sama memutuskan untuk menjadi mantan satu sama lain.

Sakit. Itu harga yang harus dibayar si gadis untuk memenangkan egonya. Kamu tahu? Lamanya dia sakit dan menangis justru melebihi lamanya dia bahagia dan tertawa. Bukan perkara mudah untuk si gadis melupakan cinta pertamanya, yang dibilang indah pun enggak. Tapi aku pikir gadis itu terlalu berani untuk berharap bahwa laki-laki, dengan ego yang sama-sama keras, yang sudah ia ‘buang’ akan kembali meminta lagi.

Gadis itu salah. Dia pikir dengan diam dan menangis, teman laki-lakinya akan paham apa yang dia mau. Dia pikir dengan memberi sedikit jarak semua akan kembali pada bagaimana semestinya. Dia pikir dengan mengulur sedikit waktu, kelak teman laki-lakinya akan menoleh lagi dan si gadis akan berani mengatakan apa yang sebenarnya dia mau.

Enam tahun berlalu, dan tenyata teman laki-lakinya gak pernah menoleh ke belakang. Begitu pun si gadis, gak pernah berani mengatakan apa yang dia mau. Ya, sampai sekarang aku cuma berani menulis lewat surat ini apa yang dulu gak pernah aku bilang ke kamu.

Kamu tahu? Dulu aku masih terlalu naif untuk menyaring semua komentar orang lain soal aku dan kamu, yang selanjutnya disebut kita. Aku cuma mau kamu meyakinkan aku, meyakinkan soal semua yang aku gak yakin. Si gadis cuma mau diyakinkan oleh teman laki-lakinya. Sayang, kamu gak pernah paham.

Ajaib. Itulah bagaimana waktu mengubah kita yang dulu mesra, menjadi dingin tanpa saling bertegur sapa.

Ajaib. Itulah bagaimana ternyata waktu bisa jadi penyembuh.

Ajaib. Itulah waktu yang sama-sama mendewasakan kita. Mengubah aku dan kamu yang dulu dibatasi perselisihan menjadi akrab lagi. Hey lihatlah, bagaimana sekarang kita begitu dekat dalam apa yang manusia sebut pertemanan.

Ajaib. Itulah bagaimana ternyata waktu juga bisa mempertemukan aku dengan yang lain, begitu pun kamu.

Hey, mantan pacar pertamaku. Masih suka ngutak-ngatik soal fisika? Salut deh sama gimana besarnya cinta kamu ke rumus-rumus itu. Kamu tahu? Hukum kekekalan energi gak bisa dipakai dalam urusan cinta remaja.
“Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.”
Kamu gak bisa mengubah kalimat itu jadi “Cinta gak bisa diciptakan atau dimusnahkan...” Kenyataannya cinta bisa kok diciptain sesuai kemauan kita, cinta juga gampang dimusnahin.
Tapi ya benar “Cinta bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain....” Cinta kita untuk siapa juga bisa diubah, dari satu orang ke orang lain....





Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS